Yarsi Sumbar Siapkan Akreditasi Syariah, RSI Ibnu Sina Bukittinggi Jadi Percontohan
Penguatan Ruhis dan penerapan nilai-nilai syariah terus diperkuat untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang profesional, nyaman, dan berlandaskan prinsip Islam.
PADANG – Pelayanan medis yang memperhatikan kesesuaian gender antara tenaga kesehatan dan pasien, penjagaan aurat selama perawatan, penggunaan obat yang memenuhi ketentuan halal, hingga pengingat waktu salat menjadi bagian dari standar yang tengah dipersiapkan dalam pengembangan rumah sakit syariah di lingkungan Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi) Sumatera Barat.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Pembina Yarsi Sumbar yang digelar di Sekretariat Yarsi Sumbar, Sabtu (30/5/2026). Dalam rapat tersebut, Yarsi Sumbar menegaskan kelanjutan proses pengembangan akreditasi syariah yang telah mulai dipersiapkan sejak tahun 2025, dengan menetapkan RSI Ibnu Sina Bukittinggi sebagai pilot project akreditasi syariah yang diharapkan menjadi model bagi RSI Ibnu Sina lainnya.
Ketua Pembina Yarsi Sumbar, Prof. Dr. Zainul Daulay, mengungkapkan bahwa seluruh unit kegiatan di bawah naungan Yarsi Sumbar harus dijalankan sesuai prinsip-prinsip syariah sebagai bentuk tanggung jawab atas amanah yang dipercayakan umat.
"Kita telah bersepakat bahwa kegiatan yang dijalankan Yarsi Sumbar bergerak di bidang rumah sakit dan pendidikan, harus melaksanakan ketentuan-ketentuan syariah. Apa yang diamanahkan umat kepada kita harus dipelihara dan dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya," ujarnya.
Menurut Prof. Zainul, keberhasilan Yarsi Sumbar tidak hanya diukur dari pertumbuhan aset, pembangunan sarana, maupun capaian keuangan, tetapi juga dari keberhasilannya menghadirkan pelayanan kesehatan yang profesional, berkualitas, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Komitmen tersebut tercermin dalam penguatan program Ruhul Islam (Ruhis) yang terus dikembangkan di seluruh unit Yarsi Sumbar. Sepanjang tahun 2025, berbagai kegiatan pembinaan dan internalisasi nilai-nilai Islam dilaksanakan secara berkelanjutan, mulai dari siraman rohani bagi jajaran pimpinan dan struktural, forum studi Al-Qur’an, penguatan etos kerja Islami, pembinaan karakter, hingga pelayanan kerohanian kepada pasien dan keluarga pasien.
Kegiatan siraman rohani dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan menghadirkan para ulama, akademisi, dan tokoh yang memberikan penguatan nilai-nilai kepemimpinan, integritas, serta semangat pengabdian dalam menjalankan amanah organisasi.
Di lingkungan pendidikan, penguatan Ruhis juga dilakukan melalui berbagai program pembinaan mahasiswa dan sivitas akademika Universitas Mohammad Natsir, seperti kegiatan Mata Natsir, wirid pengajian, bina karakter mahasiswa, kuliah pakar, tahsin Al-Qur’an, pembekalan mahasiswa baru, serta berbagai kegiatan yang mendorong terciptanya suasana akademik yang Islami.
Pembina menilai berbagai program tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun budaya organisasi yang tidak hanya profesional, tetapi juga berkarakter Islami dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Ketua Umum Yarsi Sumbar, dr. Erman Ramli, SpOG(K), FISQua, menjelaskan bahwa pengembangan akreditasi syariah di lingkungan Yarsi Sumbar telah mulai dipersiapkan sejak tahun 2025 sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas rumah sakit Islam sekaligus memastikan nilai-nilai syariah terimplementasi secara nyata dalam pelayanan dan manajemen rumah sakit.
"Akreditasi syariah merupakan bagian dari upaya memastikan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya menjadi identitas, tetapi benar-benar terimplementasi dalam tata kelola, pelayanan, dan budaya kerja rumah sakit," jelasnya.
Sebagai bagian dari proses tersebut, Yarsi Sumbar telah mengirimkan dua orang untuk mengikuti pelatihan Dewan Pengawas Syariah yang diselenggarakan oleh MUI Institute bersama Dewan Syariah Nasional MUI. Selain itu, tim RSI Ibnu Sina Bukittinggi juga melakukan studi banding ke RS Yarsi Jakarta guna mempelajari praktik terbaik dalam penerapan standar rumah sakit syariah.
Menurut dr. Erman, langkah-langkah tersebut menjadi fondasi awal dalam mempersiapkan RSI Ibnu Sina Bukittinggi sebagai pilot project akreditasi syariah di lingkungan Yarsi Sumbar.
RSI Ibnu Sina Bukittinggi Jadi Pilot Project
Direktur RSI Ibnu Sina Bukittinggi, dr. Anne, MARS, menjelaskan bahwa akreditasi syariah bukan sekadar memperoleh sertifikasi, melainkan memastikan seluruh sistem rumah sakit berjalan sesuai prinsip-prinsip Islam.
"Sebagai rumah sakit yang menyandang nama Rumah Sakit Islam, kita terus berikhtiar agar seluruh aspek pelayanan, manajemen, keuangan, farmasi, dan fasilitas rumah sakit dijalankan sesuai syariah," ujarnya.
Menurut dr. Anne, implementasi rumah sakit syariah mencakup berbagai aspek yang langsung dirasakan pasien. Dalam tindakan medis tertentu, pelayanan diupayakan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sejenis gendernya dengan pasien. Apabila kondisi tertentu mengharuskan penanganan oleh tenaga kesehatan yang berbeda gender, maka terdapat mekanisme pendampingan sesuai ketentuan syariah.
Selain itu, rumah sakit syariah juga memperhatikan penjagaan aurat pasien selama menjalani perawatan maupun tindakan medis, termasuk di ruang operasi. Berbagai fasilitas pendukung ibadah dan kenyamanan pasien juga menjadi bagian dari pelayanan, seperti penyediaan perlengkapan ibadah, pengingat waktu salat, pendampingan rohani, hingga fasilitas yang mendukung kenyamanan dan privasi pasien, termasuk bagi ibu menyusui.
Penerapan prinsip syariah juga mencakup penggunaan obat-obatan yang memenuhi ketentuan halal serta pengelolaan keuangan yang menghindari praktik riba. Dengan demikian, konsep rumah sakit syariah tidak hanya menyentuh aspek pelayanan medis, tetapi juga mencakup tata kelola organisasi secara menyeluruh.
Berbagai langkah persiapan yang telah dilakukan sejak tahun 2025 tersebut menunjukkan bahwa transformasi menuju rumah sakit syariah di lingkungan Yarsi Sumbar tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi telah diwujudkan melalui penguatan tata kelola, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta implementasi bertahap dalam pelayanan rumah sakit.
Bagi Yarsi Sumbar, pengembangan rumah sakit syariah tidak hanya bertujuan memenuhi standar akreditasi, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan layanan kesehatan yang unggul, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Melalui penguatan budaya Ruhis dan percepatan akreditasi syariah, Yarsi Sumbar menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan kesehatan yang profesional, terpercaya, dan berlandaskan nilai-nilai Islam bagi masyarakat Sumatera Barat.
"Kami berharap nilai-nilai syariah dapat semakin terinternalisasi dalam setiap aspek pelayanan, sehingga masyarakat tidak hanya memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas, tetapi juga merasakan kenyamanan, ketenangan, dan keberkahan dalam proses pelayanan yang diberikan," ujar dr. Anne, MARS.
***
Kontributor : Jimmi Syah Putra Ginting (Sekretaris Yarsi Sumbar)